Asal Usul Nama Blora dan Sejarahnya

....

Nama Blora dan sejarahnya menjadi bagian menarik dari warisan Jawa Tengah. Terletak di bagian timur Provinsi Jawa Tengah, Blora bukan sekadar wilayah yang dikenal dengan jati dan minyak buminya, melainkan sebuah kawasan yang menyimpan memori kolektif tentang perjuangan dan transformasi budaya.


Etimologi: Dari Lumpur Menjadi Berkah

Nama "Blora" secara linguistik diyakini berasal dari bahasa Jawa Kuno. Kata tersebut berawal dari “Belor” yang berarti lumpur, kemudian berkembang menjadi “Mbeloran”. Seiring perkembangan fonetik masyarakat setempat, penyebutannya disederhanakan menjadi “Blora” agar lebih mudah diucapkan.


Makna “lumpur” tidak dimaknai secara negatif sebagai sesuatu yang kotor. Istilah tersebut merujuk pada kondisi geografis masa lampau ketika Blora merupakan daerah rendah yang sering tergenang air dan membentuk rawa atau lahan berlumpur. Dalam filosofi Jawa, tanah lembap atau berlumpur justru melambangkan kesuburan yang menopang kehidupan masyarakat agraris.

Sejarah dan Perkembangan Blora 

Memahami asal usul nama Blora dan sejarahnya tidak akan lengkap tanpa melihat garis waktu pemerintahannya. Blora telah melewati berbagai fase kekuasaan, mulai dari era kerajaan hingga masa kemerdekaan.

1. Era Kesultanan Mataram dan Hari Jadi

Secara administratif, keberadaan Blora mulai tercatat dengan resmi dan sistematis pada abad ke-18. Pada mulanya, Blora merupakan wilayah mancanegara (wilayah luar) dari Kesultanan Mataram yang berpusat di Yogyakarta dan Surakarta. Sejarah mencatat bahwa hari jadi Kabupaten Blora ditetapkan pada tanggal 11 Desember 1749.

Raden Tumenggung Wilotikto resmi diangkat sebagai Bupati Blora pertama oleh Sri Susuhunan Pakubuwana II. Pengangkatan ini merupakan strategi politik untuk memperkuat kendali Mataram di wilayah timur sekaligus mengakui pentingnya Blora dalam peta kekuasaan Jawa. Sejak itu, Blora memiliki struktur pemerintahan sendiri dan mulai membangun pusat pemerintahannya.

2. Perlawanan Samin Surosentiko dan Identitas Lokal

Salah satu bagian sejarah yang paling unik dan menjadi ciri khas Blora adalah lahirnya gerakan Saminisme. Dipelopori oleh Raden Kohar yang kemudian dikenal sebagai Samin Surosentiko pada akhir abad ke-19, gerakan ini merupakan bentuk perlawanan non-violent atau non-kekerasan terhadap pemerintah kolonial Belanda.

• Inti Ajaran: Menekankan pada kejujuran, kebersamaan, dan penolakan keras untuk tunduk pada aturan penjajah, seperti menolak membayar pajak dan menolak memberikan hasil bumi kepada Belanda.

• Prinsip Hidup: Masyarakat Samin memegang teguh konsep Saminism yang menghargai hak milik orang lain dan menjaga harmoni dengan alam.

• Dampak Sejarah: Hingga saat ini, keturunan masyarakat Samin masih eksis di beberapa desa di Blora. Mereka tetap menjaga tradisi leluhur dan menjadi simbol integritas moral yang sangat dihormati di Jawa Tengah.

3. Kekayaan Alam: Emas Hitam dan Kayu Jati

Blora memiliki posisi strategis secara ekonomi karena merupakan bagian dari "Blok Cepu". Sejarah eksploitasi minyak bumi di wilayah ini dimulai sejak zaman Hindia Belanda oleh perusahaan De Dordtsche Petroleum Maatschappij pada akhir tahun 1800-an. Penemuan sumber minyak ini mengubah Blora, khususnya wilayah Cepu, menjadi area industri yang sibuk dengan teknologi modern pada masanya.

Selain minyak, hutan jati Blora adalah salah satu yang terbaik di dunia. Pohon Tectona grandis atau kayu jati yang tumbuh di atas tanah kapur Blora memiliki serat, kekuatan, dan kepadatan yang sangat tinggi karena pertumbuhannya yang lambat menghasilkan kayu yang keras dan awet. Hutan ini telah dikelola secara ketat sejak zaman Belanda melalui sistem Boschwezen, yang menjadi cikal bakal pengelolaan hutan modern di Indonesia.

Warisan Budaya dan Tradisi yang Melekat

Selain sejarah politik dan ekonomi, Blora memiliki kekayaan budaya yang tetap lestari dan menjadi daya tarik wisata. Tradisi ini merupakan hasil asimilasi budaya selama berabad-abad yang membentuk karakter masyarakat Blora yang ramah namun tangguh.

1. Kesenian Barongan

Kesenian Barongan adalah ikon kebudayaan Blora yang paling menonjol. Barongan menampilkan sosok singa (Gembong Amijoyo) sebagai simbol kekuatan, keberanian, dan perlindungan. Pertunjukan ini biasanya diiringi oleh instrumen gamelan yang ritmis dan penuh semangat.

2. Kuliner Khas Sate Blora

Sate Ayam Blora memiliki cara penyajian yang unik dibandingkan sate dari daerah lain. Dagingnya empuk, disajikan dengan bumbu kacang halus, nasi, dan kuah kuning kaya rempah. Setelah makan, tusuk sate dikumpulkan untuk dihitung sebagai penentu jumlah yang dibayar, menjadi pengalaman khas bagi wisatawan.

3. Situs Fosil dan Geologi

Secara geologis, Blora merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng. Wilayah ini adalah "surga" bagi para arkeolog karena sering ditemukannya fosil hewan purba, seperti gajah purba (Elephas hysudrindicus), yang membuktikan bahwa wilayah ini sudah menjadi pusat kehidupan sejak ribuan tahun silam.

Kesimpulan: Menghargai Akar Budaya

Blora kini berkembang menjadi kabupaten modern tanpa meninggalkan akar tradisinya. Kekayaan hutan jati dan cadangan energi menjadi penopang utama perekonomian daerah. Meski demikian, masyarakatnya tetap menjunjung nilai kesederhanaan dan keteguhan hati warisan leluhur.

Dengan mengenal asal usul nama blora dan sejarahnya, dapat belajar bahwa identitas sebuah daerah dibentuk oleh tantangan alam dan semangat orang-orang di dalamnya. Dari lahan berlumpur yang sederhana, Blora tumbuh menjadi wilayah yang memiliki kontribusi besar bagi sejarah dan ekonomi Indonesia.

....

No comments for "Asal Usul Nama Blora dan Sejarahnya "