Home » , » Ada 4 Kasus, Tempelan Jadi Klaster Baru Penularan Covid-19 di Blora

Ada 4 Kasus, Tempelan Jadi Klaster Baru Penularan Covid-19 di Blora

infoblora.com on Jun 25, 2020 | 3:00 PM

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blora, Lilik Hernanto, SKM, M.Kes menyampaikan adanya penambahan 3 kasus Covid-19 baru dari hasil tracking kasus meninggal di Tempelan, Blora. (foto: dok-ib)
BLORA. Memasuki masa penerapan new normal secara bertahap di Kabupaten Blora, nampaknya perkembangan persebaran virus Corona masih terus terjadi. Bahkan kini ada kluster baru di Kabupaten Blora, khususnya Kecamatan Blora Kota.

Hal itu ditandai dengan adanya 3 kasus positif Covid-19 yang baru terkonfirmasi secara lab PCR dalam satu keluarga di Kelurahan Tempelan. Menurut Plt. Kepala Dinas Kesehatan, Lilik Hernanto, SKM, M.Kes, 3 kasus baru ini berawal dari tracking kasus pasien Covid-19 yang meninggal pada pekan lalu, sehingga jumlahnya menjadi 4, (satu kasus menularkan 3 kasus baru).

“Ya benar, kemarin ada 3 penambahan kasus baru, sehingga jumlahnya total menjadi 48 (sebelumnya 45). Tiga kasus baru ini adalah hasil tracking dari kasus kematian pasien Covid-19 terakhir di Kecamatan Blora Kota pekan lalu. Jadi ada 3 orang yang kontak erat dengan pasien meninggal tersebut, yakni penularan anggota keluarga dan asisten rumah tangganya,” ucap Lilik Hernanto, Kamis (25/6/2020).

Dengan begitu secara keseluruhan di Blora ada 48 kasus Covid-19 dengan rincian 36 dirawat, 7 sembuh, dan 5 meninggal dunia. Terdiri dari klaster Perumda, klaster Temboro, dan klaster Tempelan. Dikatakan sebagai klaster karena telah terjadi penularan.

“Dari 36 pasien Covid-19 yang masih dirawat, 4 diantaranya manjalani isolasi di rumah sakit dan klinik. Sedangkan 32 lainnya menjalani isolasi mandiri di rumah (termasuk 3 kasus baru dari klaster Tempelan), mereka perlu didukung semua pihak,” ungkap Lilik Hernanto.

(baca berita terkait sebelumnya : klik - Tambah Satu, Pasien Covid-19 Blora yang Meninggal Jadi 4)

Menurutnya, sebanyak 32 orang pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri di rumah ini secara klinis tidak mengalami gejala yang berat, tidak sakit berat, bahkan tidak ada gejala, yang secara SOP diperbolehkan isolasi mandiri. Akan tetapi perlu disiplin ketat dan pengawasan dari keluarga, dan masyarakat sekitar.

“Selama belum dinyatakan sembuh secara laboratorium 2 kali negative swab berturut-turut, maka harus isolasi di rumah dan tidak boleh keluar. Karena apa, karena dia masih beresiko menjadi sakit meskipun fisiknya sehat, kemudian karena masih ada virus di dalam tubuhnya, juga beresiko menularkan ke orang lain,” jelas Lilik Hernanto.

Terhadap pasien yang isolasi mandiri di rumah, pihaknya meminta agar masyarakat tidak takut berlebihan. Justru masyarakat harus memberikan dukungan agar bisa segera sembuh.

“Asal kita tidak kontak erat, tidak bersalaman dan tidak berdekatan. Selalu pakai masker, cuci tangan pakai masker, dan mematuhi physical distancing, kita masih aman, tidak akan tertular,” tegasnya.

Selama proses isolasi mandiri di rumah, pihak Dinas Kesehatan menurutnya juga terus melakukan pemantauan dan pemeriksaan, begitu juga untuk pengambilan swab nya.

“Hingga hari ini untuk OTG jumlahnya ada 74, ODP 16 yang masih dipantau, PDP ada 6 yang diawasi, dan rapid-test reaktif yang masih menunggu swab ada 26,” pungkasnya. (kra-infoblora)

Share this article :

0 komentar:

 
Copyright © 2018. infoblora.com - All Rights Reserved