Home » , » Percepat Penguraian Sampah di TPA, DLH Blora Manfaatkan Lalat Tentara Hitam

Percepat Penguraian Sampah di TPA, DLH Blora Manfaatkan Lalat Tentara Hitam

infoblora.com on Jan 15, 2019 | 3:30 PM

Lalat Tentara Hitam dikembangbiakkan dalam nursery agar menghasilkan belatung yang akan dimanfaatkan untuk mengurai sampah organik yang ada di TPA. (foto: dok-ib)
BLORA. Sampah telah menjadi ancaman besar kelestarian lingkungan yang dampaknya sangat merugikan manusia. Beragam inovasi dan kreatifitas terus dilakukan agar jumlah sampah di sebuah wilayah bisa ditekan sehingga tidak merugikan kesehatan manusia.

Salah satu inovasi baru untuk penanganan sampah ini pun mulai dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Blora, yakni menerapkan pengeloaan sampah dengan metode BSF (Black Soldier Fly) atau sering disebut Lalat Tentara Hitam.

Lalat tersebut dimanfaatkan untuk membantu penguraian sampah yang ada di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sampah, Desa Temurejo, Kecamatan Blora. Sehingga sampah organik bisa terurai dan ramah lingkungan.

Kepala Bidang Kebersihan, Pengelolaan Sampah, Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, DLH Kabupaten Blora, Drs. Didik Triarso menyatakan bahwa inovasi ini mulai diterapkan oleh pihaknya dan terbukti mampu mengurai sampah lebih cepat dan efisien.

“Kami terus berfikir bagaimana agar jumlah sampah di Blora bisa dimusnahkan tanpa menyebabkan pencemaran lingkungan. Akhirnya kami memilih dengan metode BSF ini,” ucapnya.

Tentang cara kerjanya, Kepala Seksi Pengelolaan Sampah DLH Kabupaten Blora, Prih Hartanto yang ditemui di TPA Temurejo pada hari Senin (14/1/2019), menjelaskan bahwa lalat tentara hitam tersebut tidak dilepas begitu saja, namun diternak atau dikembangbiakkan dalam kawasan khusus terlebih dahulu.

Salah satu pegawai DLH Kabupaten Blora mengecek proses penguraian sampah organik yang ada di TPA Temurejo. (foto: dok-ib)
“Pengembangbiakan lalat hitam ini untuk menghasilkan maggot atau belatung. Belatung dari lalat hitam inilah nanti yang akan bekerja untuk mengurai sampah, sehingga volume sampah akan berkurang dan mengurangi bau sampah,” terang Prih Hartanto.

Menurutnya, BSF atau sering disebut lalat tentara hitam dikembangbiakkan di tempat yang disebut nursery. Setelah lalat bertelur, telur-telur tersebut dipisahkan dan ditempatkan ditempat yang berbeda untuk proses penetasan.

Setelah menetas dan berusia 5 hari diletakkan pada sampah organik. Setelah 10 hari, maka larva tersebut sudah dapat dipanen dan ditebarkan ke tumpukan sampah untuk bekerja mengurai sampah.

Dengan adanya inovasi ini, Kepala DLH Kabupaten Blora, Ir. Dewi Tedjowati berharap jumlah sampah di Kabupaten Blora setiap hari bertambah bisa segera terurai secara alami dengan menggunakan metode BSF.

“Metode BSF efektif untuk mengurangi volume sampah di TPA, jadi metode ini bisa menjadi solusi permasalahan pengolahan sampah di Kabupaten Blora. Harapannya kedepan tidak hanya untuk sampah di TPA Temurejo saja, namun juga TPA sampah lainnya,” harap Ir. Dewi Tedjowati. (bh-res | infoblora)
Share this article :

0 komentar:

 
Copyright © 2018. infoblora.com - All Rights Reserved