Blora on News :
Home » , » Melihat Desa Gadon, Swasembada Gabah Namun Tak Swasembada Beras

Melihat Desa Gadon, Swasembada Gabah Namun Tak Swasembada Beras

infoblora.com on Oct 6, 2017 | 10:00 AM

Salah satu petani di Desa Gadon Kecamatan Cepu memulai tanam pertama di musim 2017/2018 menggunakan transplanter. (foto: dok-infoblora)
BLORA. Siapa yang tidak mengenal Desa Gadon? Salah satu desa yang subur di pinggiran Sungai Bengawan Solo Kecamatan Cepu ini memang dikenal sebagai lumbung pertanian, khususnya padi. Dalam satu tahun, petani di desa ini bisa menanam padi hingga tiga kali dengan memanfaatkan air Bengawan Solo yang disedot menggunakan pompa.

Bulan lalu, desa yang berbatasan dengan Ngloram, Kemantren dan Panolan ini ikut mengirimkan berasnya untuk donasi kemanusiaan Rohingya Myanmar sebanyak 150 ton. Disamping itu, ketika daerah lain masih susah air karena kemarau, petani di Desa Gadon saat ini justru telah memulai musim tanam pertama di musim 2017/2018 dengan menggunakan transplanter. Sehingga layak jika Gadon disebut sebagai Desa Swasembada.

Namun kata swasembada ini menurut Ketua Kelompok Tani Desa Gadon “Sri Widati”, Sutiono baru sebatas swasembada gabah saja. Ia mengakui jika produksi gabah di desanya memang melimpah. Namun ia belum bisa mengatakan bahwa Desa Gadon telah swasembada beras.

Ketika ditemui di sela acara kunjungan kerja Komisi B DPRD Jawa Tengah, Selasa (3/10/2017) lalu, Sutiono mengungkapkan perihal tersebut. Ia ingin agar kedepan Gadon selain swasembada gabah, juga bisa swasembada beras.

“Produksi gabah disini memang tinggi karena mampu panen setahun 3 kali. Namun belum swasembada beras. Hal itu karena desa kami belum mempunyai selepan yang daya tampungnya besar, sehingga ketika usai panen langsung dijual ke luar wilayah dalam bentuk gabah,” terangnya.

Alhasil, menurut Sutiono harga yang diperoleh petani pun masih rendah. Berbeda jika petani menjual gabah dalam kondisi kering atau berbentuk beras. Bisa dipastikan harganya akan lebih tinggi dan keuntungannya lebih besar.

“Untuk mengeringkan dan memproses menjadi beras inilah kendalanya. Kami selain belum ada selepan, juga belum punya mesin pengering. Sehingga belum bisa menunda penjualan gabah. Setelah panen pasti langsung dijual begitu saja. Mengingat masih banyak kebutuhan yang harus dipenuhi,” lanjutnya.

Pihaknya berharap pemerintah bisa memberikan bantuan alat pengering padi dan pembangunan rumah giling padi atau selepan dengan daya tampung besar di Desa Gadon. Dengan begitu, selain swasembada gabah juga bisa swasembada beras. (res-infoblora)
Share this article :

0 komentar:

 
Powered by : Mas Kolis
Info Iklan
Copyright © 2016. infoblora.com - All Rights Reserved