Blora on News :
Home » , » H-1 Kupatan, Kelapa Mulai Langka dan Harganya Melambung Tinggi

H-1 Kupatan, Kelapa Mulai Langka dan Harganya Melambung Tinggi

infoblora.com on Jul 1, 2017 | 10:00 AM

Satu hari menjelang lebaran ketupat, stok kelapa di Pasar Blora menipis dan harganya melambung tinggi. (foto: dok-ib)
BLORA. Satu hari menjelang perayaan tradisi Kupatan atau Lebaran Ketupat, harga komoditas kelapa beranjak naik hingga 60 persen dari harga semula. Satu buah kelapa parut utuh yang tadinya dijual seharga Rp 10 ribu, kini dijual dengan harga Rp 15 ribu hingga Rp 17 ribu. Kondisi tersebut terjadi di Pasar Induk Blora, Pasar Rel Blora dan Pasar Kaliwangan.

Tidak hanya naik dari segi harganya saja, persediaan kelapa di pasaran pada hari Sabtu (1/7) ini pun menipis sehingga membuat ibu-ibu kebingungan untuk memasak sayur ketupat. Banyak yang mengeluh susah mencari kelapa karena stoknya terbatas. Kalaupun ada, harganya mahal.

“Saya tadi pagi keliling pasar dari pasar gede sampai pasar rel, tidak ada kepala. Semuanya sudah laku, sedangkan menurut para penjual kepala stok yang baru belum datang karena angkutan barang belum diperbolehkan melintas selama musim arus balik,” ucap Karni, salah satu pembeli kelapa.

Begitu juga Asih tukang sayur keliling, ia bahkan bolak balik ke beberapa pasar untuk mencari kelapa untuk memenuhi pesanan pelanggannya.

“Saya dipesani beberapa pelanggan untuk membelikan kelapa. Tapi sudah banyak pedagang yang kehabisan. Setelah beberapa kali tanya ke pedagang pasar, akhirnya dapat di daerah Dluwangan. Ada yang jual kelapa di rumahan. Harganya Rp 15 ribu per buah,” terangnya.

Ia mengaku, hari-hari menjelang kupatan memang permintaan terhadap kepala sangat tinggi. Ketupat yang dimasak oleh warga sangat identik dengan sayur lodeh dengan kuah santan.

“Bisa dibayangkan berapa kelapa yang dibutuhkan masyarakat saat ini jika setiap rumah membuat ketupat dan sayurnya secara bersamaan untuk kupatan besok. Tentu sangat banyak,” lanjutnya.

Menurutnya, komoditas kepala di Blora semuanya didatangkan dari Bali dan Lombok. Tidak ada stok kelapa lokal karena wilayah Blora sendiri sudah minim pohon kelapa karena serangan serangga kwang wung. Sehingga kerap terjadi kelangkaan ketika stok dari Bali dan Lombok belum datang.

Ia berharap pemerintah bisa menggalakkan kembali penanaman pohon kepala di Blora. Kelapa memiliki banyak menfaat mulai dari daunnya hingga akar. Sehingga perlu digalakkan kembali agar warga bisa semakin mudah jika memerlukan kelapa.

Sebaliknya untuk janur bahan selongsong ketupat justru melimpah. Bahkan satu hari menjelang kupatan ini semakin siang harganya semakin turun. “Kemarin 50 lembar janur dijual Rp 15 ribu, siang ini banting harga hingga Rp 5 ribu per 50 lembar,” pungkasnya. (rs-infoblora)
Share this article :

0 komentar:

 
Powered by : Mas Kolis
Info Iklan
Copyright © 2016. infoblora.com - All Rights Reserved