Blora on News :
Home » , » Perajin Batik Blora di Desa Sumber Kradenan Butuh Dukungan Pengembangan

Perajin Batik Blora di Desa Sumber Kradenan Butuh Dukungan Pengembangan

infoblora.com on Dec 18, 2016 | 10:50 AM

Wabup H.Arief Rohman melihat batik tulis karya ibu-ibu Desa Sumber Kecamatan Kradenan. (foto: rs-infoblora)
BLORA. Ditengah keterbatasan alat dan sulitnya pemasaran hasil kerajinan batik, ibu-ibu para pembatik kelompok Manggar di RT 02 RW 10 Dukuh Tawangrejo, Desa Sumber Kecamatan Kradenan tetap semangat berkarya. Untuk mempertahankan usahanya, merekapun terpaksa menjual produknya dengan kisaran harga seratus ribu agar bisa terjual. Padahal jika dikemas dan dikembangkan lebih bagus akan bisa dijual lebih tinggi lagi sehingga bisa meningkatkan perekonomian warga.

Letak Desa Sumber yang jauh dari pusat kota Kabupaten memang menjadi kendala tersendiri bagi ibu-ibu ini untuk menjual produk hasil karyanya. Jarwati selaku koordinator perajin batik di Desa Sumber mengaku penjualan produknya hanya dititipkan di salah satu homestay yang berada di Cepu. “Kalau hanya dijual di desa ya sepi mas. Kami memang butuh bantuan pemasaranm,” ucapnya.

Berawal dari pelatihan membatik yang digelar melalui Coorporate Social Responsibility (CSR) Pertamina beberapa tahun lalu, kelompok batik Manggar dibawah koordinator Ibu Jarwati ini memang ingin mengembangkan usahanya agar bisa dikenal masyarakat umum.

Rudianto (tiga dari kiri) mahasiswa desain batik yang mendmpingi pengembangan
motif batik ibu-ibu di Desa Sumber sedang memberikan penjelasan kepada
Wakil Bupati. (foto: rs-infoblora)
Kondisi itu pun direspon Wakil Bupati Blora H.Arief Rohman M.Si saat melakukan kunjungan kerja ke Desa Sumber Kecamatan Kradenan, Kamis (15/12) lalu, didampingi Kapolsek AKP Subardo dan Kades Sumber Zaki Bachroni. Wabup yang juga mantan anggota DPRD Jateng ini pun bersedia memberikan bantuan pengembangan usaha dan pemasaran.

“Batik ini harus bisa dikembangkan agar bisa dijadikan salah satu usaha unggulan desa yang melibatkan warga, khususnya ibu-ibu. Motifnya juga harus motif khas desa sini agar beda dengan batik lainnya. Kekurangan alat produksi coba didata, nanti saya bantu carikan CSR dari Pertamina atau PGN mengingat Desa Sumber merupakan ladang gas negara,” ujarnya.

Adapun untuk pemasaran, Wabup akan menggandeng persatuan pengusaha hotel yang tergabung dalam PHRI Kabupaten Blora untuk bisa menyediakan space kecil di masing-masing lobbi hotel guna memamerkan produk-produk kerajinan seperti batik ini.

“Dengan dipamerkan di hotel-hotel yang ada di Blora maupun Cepu maka batik akan bisa dikenal para tamu dari luar kota untuk kenang-kenangan. Nanti saya hubungkan dengan para pengusaha hotel,” lanjutnya sambil membeli 5 helai kain batik.

Tidak hanya itu, ia juga meminta perajin aktif mempromosikan batiknya melalui media sosial. Maraknya penggunaan media sosial harus bisa dimanfaatkan untuk menjual produk kerajinan. Ia mencontohkan batik Blora Nimas Barokah yang ada di Kelurahan Beran bisa dikenal masyarakat luas hingga Gubernur juga karena media sosial.

Mendengar arahan Wabup, Jarwati beserta 5 anggota kelompok pembatiknya menyatakan kesiapannya untuk terus mengembangkan usahanya. Ia mengaku saat ini perajinnya semua adalah ibu-ibu rumah tangga yang setiap hari berkumpul setelah memasak dan bersih-bersih rumah.

“Kekurangan alat memang iya, kami awalnya hanya berlatih warna alam. Namun kini mencoba warna kimia dengan remasol. Jika difasilitasi bantuan alat, kami juga ingin mengembangkan batik cap agar memiliki banyak varian,” bebernya.

Dalam hal pengembangan motif, kelompok Manggar ini juga didampingi Rudianto, seorang mahasiswa desain batik asli desa Sumber yang kini masih kuliah di Solo. Pemuda ini bersedia melakukan pendampingan dalam hal pengembangan motif dan pewarnaan agar batik dari Desa Sumber bisa lebih berkualitas dan menarik. (rs-infoblora)
Share this article :

0 komentar:

 
Powered by : Mas Kolis
Info Iklan
Copyright © 2016. infoblora.com - All Rights Reserved