Blora on News :
Home » , , » Loko Tour Cepu Perlu Direvitalisasi Agar Lebih Menarik Minat Wisatawan

Loko Tour Cepu Perlu Direvitalisasi Agar Lebih Menarik Minat Wisatawan

infoblora.com on May 30, 2016 | 12:18 AM

Lokomotif tua yang pernah dinaiki Presiden Sukarno tersimpan rapi di Depo Loko Ngelo Kecamatan Cepu. (foto: rs-infoblora)
BLORA. Mahalnya biaya operasional, langkanya sparepart dan sudah rapuhnya bantalan rel wisata loko tour atau kereta uap tua milik Perhutani KPH Cepu menjadi penyebab sepinya minat wisatawan untuk mencoba sensasi naik besi kuno buatan Jerman dan Belanda ini.

Menyikapi hal tersebut, agar lebih mudah dijangkau wisatawan baik lokal maupun mancanegara, Wakil Bupati Blora H.Arief Rohman M.Si pun menggagas adanya revitalisasi atau penataan ulang sistem operasional Loko Tour Cepu. Hal itu ia sampaikan ketika meninjau garasi loko tour di Kelurahan Ngelo, kemarin.

“Loko Tour ini aset yang sangat mahal harganya dan mengandung nilai sejarah transportasi yang tinggi. Jangan sampai hanya tinggal kenangan. Kita harus terus mengupayakan agar besi tua ini bisa terus dijalankan. Karena ini buatan Jerman, bukan tidak mungkin nanti kita akan melakukan revitalisasi bekerjasama dengan Kedutaan Besar Jerman,” ucap Arief Rohman.

Wakil Bupati H.Arief Rohman M.Si (kemeja biru) bersama wartawan senior
Kompas Bang Osdar (kaos merah) sedang mendokumentasikan potensi loko
uap kuno buatan Jerman. (foto: rs-infoblora)
Ia ingin loko tour ini bisa diperpendek rute perjalannya sehingga biaya operasional dan beban perawatan jalur rel kereta lebih hemat. “Saya ingin nanti titik awal naik loko dari Buk Brosot saja, dibuatkan garasi disitu menuju Gubug Payung. Sehingga tampak dari tepi jalan Blora-Cepu dan lebih cepat menuju Gubug Payung sambil menikmati hamparan hutan jati hijau yang teduh, daripada dari Ngelo kejauhan,” lanjutnya.

Adapun petugas jaga depo loko tour, Arief Budi menyatakan dukungannya jika memang Pemkab ada upaya untuk merevitalisasi keberadaan kereta uap tua ini. Ia menyarankan agar Pemkab bisa segera berkoordinasi dengan Perhutani KPH Cepu. “kalau mau dikerjasamakan dengan Kedutaan Jerman, tentu akan lebih baik. Mengingat kereta ini buatan nenek moyang mereka,” ujarnya.

Sementara itu berdasarkan informasi yang didapatkan Info Blora dari bagian perawatan loko, Lulus Tri Laksono, menerangkan bahwa untuk sekali jalan dari depo loko di Ngelo dengan tujuan akhir di Gubug Payung memerlukan biaya hingga Rp 12 juta untuk pulang pergi. Adapun kapasitas penumpang sekitar 40 orang.

“Operasionalnya memang mahal, semuanya masih asli buatan Jerman sehingga butuh perawatan dan perlakuan khusus agar bisa jalan. Loko berjalan menggunakan bahan bakar  kayu jati dan air yang menghasilkan uap panas untuk menggerakkan mesin lokomotif. Perlu beberapa meter kubik kayu jati untuk menjalankan kereta ini, dan harus dalam titik panas (stem) yang stabil agar jalannya bisa lancar,” ungkap Lulus.

Disinilah peran seorang stoker menjadi penting sebagai pengendali titik panas mesin uap dan terus mengontrol keadaan bara api dari pembakaran kayu jati.  Stoker pun harus mengendalikan kecepatan laju lokomotif dan harus hafal medan. Sedangkan masinis hanya mengarahkan arah kereta.

Ia menjelaskan, bahwa sebenarnya di Perhutani KPH Cepu ada 4 lokomotif tua buatan Jerman dan 1 buatan Belanda. “Empat lokomotif tua itu bernama Tujuhbelas, Agustus, Maju dan Bahagia. Jaman dulu mau diberi nama Tujuhbelas, Agustus, Maju, Merdeka tidak jadi karena masih ada kependudukan Belanda. Sehingga nama Merdeka diganti dengan Bahagia,” jelas Tulus.

Untuk lokomotif Tujuhbelas dan Agustus sudah tidak aktif dan ada di dalam garasi. Dulu pernah memakan banyak korban saat jaman pergerakan perang Kemerdekaan serta pernah dinaiki Presiden Soekarno dari Jakarta ke Yogyakarta. Sedangkan lokomotif Maju kini dipajang di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta. “Yang masih aktif jalan hanya lokomotif Bahagia,” kata Lulus menambahkan.

Penikmat wisata loko tour ini kebanyakan turis mancanegara seperti Jerman, Belanda, Jepang, Australia dll.  Memang diakui untuk wisatawan lokal jarang yang naik karena biaya operasionalnya cukup mahal. Kalaupun ada wisatawan lokal, biasanya berkelompok kurang lebih 40 orang menggunakan gerbong wisata yang disediakan.

Terakhir kali kereta uap ini jalan pada tahun lalu saat perpisahan TK Perhutani. Sebelumnya pada Juli 2014 juga pernah jalan hingga pos bergojo melayani turis luar negeri dari Jerman dan Australia. (rs-infoblora)
Share this article :

0 komentar:

 
Powered by : Mas Kolis
Info Iklan
Copyright © 2016. infoblora.com - All Rights Reserved