Blora on News :
Home » , , » Beromset Ratusan Ribu Rupiah, Warga Blora Asik Berburu “Ungker” Ulat Jati di Hutan

Beromset Ratusan Ribu Rupiah, Warga Blora Asik Berburu “Ungker” Ulat Jati di Hutan

infoblora.com on Jan 4, 2016 | 12:00 PM

Sumiati menunjukkan ungker hasil buruannya.
(foto: teg-ib)
BLORA. Mahalnya harga kepompong “ungker” ulat daun jati membuat warga Blora khususnya yang tinggal di dekat area hutan giat untuk memburunya. Terutama pada saat musim semi seperti ini merupakan puncaknya populasi ulat daun jati yang harganya bisa mencapai Rp 60.000 per kilogram sehingga dalam sehari bisa menghasilkan uang hingga ratusan ribu jika berhasil mendapatkan lebih dari 1 kg.

Seperti yang dilakukan Sumiati (40) warga Dukuh Sawur Desa Sambongrejo Kecamatan Sambong bersama para tetangganya pada Senin siang (4/1) asyik berburu ungker yang telah berjatuhan di bawah tegakan pohon jati tengah hutan.

“Alhamdulillah sedang musim ungker mas, bisa jadi tambahan kebutuhan sehari-hari karena saat ini harganya lumayan mahal. Mencarinya juga melelahkan karena harus mengambil satu-persatu memilah dedaunan yang jatuh di bawah hutan jati,” ucap Sumiati sambil menunjukkan bakul plastik yang terisi ungker.

Sejak pagi hari dirinya bersama beberapa tetangganya rela berjalan kaki dari desa menjelajah tengah hutan mencari ungker lalu dikumpulkan di bakul plastik untuk dijual di tepi jalan raya Blora-Cepu. “Tak perlu dijual ke pasar, di tepi jalan Blora-Cepu saja sudah banyak pembeli atau pengendara kendaraan yang menghampiri untuk membelinya,” ungkapnya.

Menurutnya setelah mencari ungker sejak pagi, pada tengah hari ia mulai menjajakan ungker hasil buruannya di tepi hutan jati Jl.Blora-Cepu wilayah Kecamatan Sambong. Dalam sehari, ia dan teman-temannya bisa mendapat uang rata-rata Rp 100.000 bahkan lebih jika ungker yang diperolehnya banyak.

“Jika dapat ungker banyak ya alhamdulillah sehari bisa dapat uang Rp 100.000 lebih. Namun ungkernya tidak dijual semua, tetapi sebagian kecil saya bawa pulang untuk lauk makan. Kalau dijual semua nanti tidak bisa ikut mencicipi ungker di rumah sebagai lauk makan,” ucapnya sambil tersenyum.

Sumiati dan tetangganya asik memilah daun mencari ungker dibawah tegakan hutan jati. (foto: teg-ib)
Sama dengan para tetangganya, saat musim ungker seperti ini dirinya lebih memilih menjelajah hutan mengumpulkan kepompong ulat jati tersebut daripada becocok tanam di sawah.

“Bertani kan hasilnya masih menunggu musim panen, kalau cari ungker tidak perlu modal uang tetapi hasilnya langsung menghasilkan uang sehingga untuk saat ini saya lebih memilih cari ungker. Bertaninya istirahat dulu karena musim tanam sudah selesai,” bebernya.

Sementara itu salah satu pembeli ungker, Tutik mengaku saat melintas di Jl.Blora-Cepu mengaku penasaran dengan ungker yang banyak dijual masyarakat di tepi hutan. “Ini baru pertama kali beli ungker dan belum pernah merasakannya. Pengen mencoba karena kata teman-teman kerja rasantya enak,” jelas Tutik.

Untuk diketahui, bagi warga Blora ungker atau kepompong ulat jati bukanlah sebuah hama namun justru menjadi sebuah bahan makanan yang biasa diolah jadi lauk sehari-hari sebagai teman makan nasi. Masyarakat biasanya memasaknya dengan cara menumis atau oseng-oseng dengan bumbu bawang merah, bawang putih, irisan cabai, tomat, lengkuas dan daun kedondong muda. (tio/teg-infoblora)
Share this article :

0 komentar:

 
Powered by : Mas Kolis
Info Iklan
Copyright © 2016. infoblora.com - All Rights Reserved