Blora on News :
Home » , , » Tangani Tugas Berat Penanganan Bencana, BPBD Blora Kekurangan Mobil Damkar

Tangani Tugas Berat Penanganan Bencana, BPBD Blora Kekurangan Mobil Damkar

infoblora.com on Jul 13, 2015 | 12:30 AM

Menghadapi banyaknya ancaman bencana, BPBD Blora hanya memiliki 2 unit mobil damkar yang bisa
digunakan operasional.
BLORA. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Blora secara resmi mulai berdiri akhir tahun lalu. Tugas berat pun disandang institusi yang dipimpin Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Sri Rahayu tersebut. Apalagi Blora selama ini dikenal rawan bencana alam. Mulai dari kekeringan dan kebakaran saat musim kemarau, banjir, angin puting beliung serta tanah longsor.

Sebelum dibentuk BPBD, tugas penanggulangan bencana dilaksanakan sejumlah institusi di Pemkab. Sebagai lembaga baru, BPBD belum dilengkapi peralatan yang memadai untuk melaksanakan tugas-tugas penanggulangan bencana. Mobil pemadam kebakaran (damkar) misalnya. BPBD hanya memiliki tiga mobil. Dari tiga mobil tersebut, hanya dua yang berfungsi. Sedangkan satu lainnya saat ini rusak. Padahal intensitas tugas pemadaman kebakaran saat musim kemarau ini tergolong tinggi.

Dalam dua pekan ini saja terjadi lima peristiwa kebakaran yang nyaris berurutan. Kasus kebakaran terakhir dialami bus Garuda Mas trayek Blora- Jakarta. Bus terbakar di Jalan Blora-Purwodadi Km 17 setelah terlibat tabrakan dengan sepeda motor Yamaha Vixion, Sabtu (11/7). Satu mobil damkar BPBD disertai satu mobil tangki penyuplai air dikerahkan memadamkan api yang menghanguskan bus.

Meski pemadaman kebakaran bisa dilakukan, namun dari sejumlah peristiwa kebakaran, masyarakat kerap mencibir kedatangan petugas damkar selalu telat. Cibiran tersebut semestinya bisa dimaklumi. Sebab, selain hanya tersedia dua mobil damkar, jarak yang ditempuh mobil damkar dari posko induk BPBD ke lokasi kejadian cukup jauh.

Dua mobil damkar itu harus bisa meng-cover seluruh wilayah Blora yang sangat luas. Bisa dibayangkan, jika kebakaran terjadi di desa pelosok yang jauh dari pusat kota Blora. Untuk mencapai desa itu dibutuhkan waktu relatif lama. Maka bisa dipastikan saat mobil damkar datang, kebakaran telah selesai dan menghanguskan rumah warga. 

”Idealnya memang minimal di setiap eks Kawedanan terdapat posko BPBD. Selain tersedia personel, di posko terdapat pula peralatan penanggulangan bencana seperti mobil damkar dan peralatan lainnya. Semakin dekat jarak posko dengan wilayah cakupan kerja, niscaya pelayanan penanggulangan bencana akan semakin baik,” tandas Rudianto, salah seorang pemerhati sosial di Blora, kemarin.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD, Blora, Sri Rahayu menyatakan, pihaknya memang berkeinginan agar pelayanan penanggulangan bencana semakin dekat dengan masyarakat. Salah satunya adalah mendirikan posko di setiap kecamatan. Namun dia, mengakui untuk merealisasikan keinginan tersebut bukan hal yang mudah. 

Selain diperlukan anggaran yang semakin banyak, untuk pengadaan peralatan operasional pencegahan bencana di setiap posko kecamatan juga dibutukan dana yang tidak sedikit.
Belum lagi persyaratan lain yang menjadi pijakan hukum bagi keberadaan posko tersebut.

”Jika keberadaan posko BPBD di setiap kecamatan belum memungkinkan, minimal posko itu ada di Eks Kawedanan, seperti di Ngawen, Cepu dan Randublatung,” katanya.

Menurutnya, selain adanya alokasi anggaran dari APBD kabupaten, pihaknya juga berharap Pemerintah Pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberikan bantuan sarana dan prasarana.

Sri Rahayu menyatakan, keterbatasan peralatan termasuk personel yang memadai secara bertahap akan diperbaiki seiring bertambahnya usia BPBD Blora. ”Karena tidak mungkin perbaikan dilakukan seketika. Semuanya butuh proses dan waktu,”katanya. (Abdul Muiz-SMNetwork | Jo-infoblora)
Share this article :

0 komentar:

 
Powered by : Mas Kolis
Info Iklan
Copyright © 2016. infoblora.com - All Rights Reserved