Blora on News :
Home » , » Hampir Punah, Kesenian Wayang Krucil di Blora Butuh Regenerasi Dalang Cilik

Hampir Punah, Kesenian Wayang Krucil di Blora Butuh Regenerasi Dalang Cilik

infoblora.com on Jun 13, 2015 | 4:00 AM

Puluhan tokoh wayang krucil butuh dalang cilik untuk memainkannya demi terwujudnya regenerasi dan pelestarian budaya.
BLORA. Tidak lebih dari lima orang dalang krucil yang terdaftar menjadi anggota Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Blora. Merekapun sebagian besar telah berusia tua. Generasi dalang penerus mereka belum ada.

Diperlukan keseriusan semua pihak untuk melestarikan salah satu kesenian Blora ini. Salah satunya dengan melatih dalang-dalang muda. Geliat pelestarian wayang krucil di Blora perlu lebih ditingkatkan dan butuh keseriusan. Apalagi lambat laun pengenalan dan pemahaman generasi muda Blora terhadap wayang krucil semakin minim.

’’Seringkali saya didatangi mahasiswa dan peneliti seni budaya yang bertanya dan mengajak diskusi tentang wayang krucil. Namun setelah itu selesai begitu saja. Tidak ada tindak lanjut pembinaan generasi sekarang untuk didorong belajar seni wayang krucil,’’ ujar Sardi, dalang senior wayang krucil asal Dusun Ngampon Etan Kelurahan Beran, Kecamatan Blora, kemarin.

Dia menceritakan, selama menjadi dalang wayang krucil sejak tahun 1951, suka duka dialami agar bisa menghidupi dan hidup dari kesenian wayang krucil. ’’Secara sukarela saya pernah diminta untuk pementasan, diajak diskusi dan menjadi obyek penelitian.
Tapi tidak pernah lahir generasi dalang wayang krucil yang benar-benar asli memiliki keterampilan dalang wayang krucil. Ada yang bisa tapi latar belakangnya adalah dalang wayang purwa,’’ ungkap Sardi. 

Pria yang tengah menjalani perawatan medis karena sakit paru-paru itu menceritakan, ketika masa kejayaan wayang krucil mulai tergeser, Sardi makin prihatin. Yang dia sesalkan, kenapa belum ada generasi penerus. Pihak terkait pun diminta lebih serius melestarikan wayang krucil. 

’’Saya kadang pilu. Maka suatu ketika saat pentas, saya sindir dan kritik, omongan saya kadang kelewatan. Tujuan saya agar wayang krucil tetap lestari,’’ tandasnya.

Sardi memiliki seperangkat wayang krucil yang disimpan dalam peti. Pernah suatu ketika wayang krucil yang dimilikinya ditawar orang Rp 15 juta. ’’Itu memiliki nilai seni dan sejarah, saya tidak akan menjualnya,’’ kata Sardi. 

Wayang yang dimilikinya terkadang masih disewa untuk pentas oleh dalang wayang krucil Blora. Salah satu murid dan generasi penerus Sardi adalah Sarjono, warga kelurahan Karangjati, Kecamatan Blora. Meski tergolong pemula belajar wayang krucil, namun dia memiliki latar belakang sebagai dalang wayang kulit, sehingga tidak mengalami kesulitan ketika harus memainkan wayang krucil.

’’Pada awalnya memang kikuk, soalnya ada cara tertentu tidak bisa dilakukan pada wayang kulit. Misalnya saat adegan perang, kalau wayang kulit bisa ditabrakkan tetapi kalau wayang krucil tidak. Itu untuk menghindari patah. Dan itu ada tekniknya,’’ ungkapnya. 

Sebagai pekerja seni, Sarjono juga memiliki harapan untuk menjaga dan melestarikan seni tradisi wayang krucil. ’’Kadang saya bertanya dalam hati ketika ada yang berujar melestarikan wayang krucil. Ndak iyo leh (apa iya) bisa melestarikan ? Apalagi jika disindir bahwa wayang krucil tidak laku dijual. Sakitnya tuh di sini,’’ kata Sarjono sembari mengarahkan tangannya ke ulu hati di dadanya.

Tidak mudah untuk benar-benar menjadi seniman dalang wayang krucil. Para pengiring (panjak) harus benar-benar menjiwai karakternya. Pengetahuan dan keterampilan khusus juga harus dimiliki para seniman wayang krucil. Namun melalui pembelajaran yang terus menerus, keterampilan itu pun bakal bisa diperoleh. Lakon yang disajikan dalam wayang krucil adalah lakon sejarah. (Abdul Muiz-SMNetwork | Jo-infoblora)
Share this article :

0 komentar:

 
Powered by : Mas Kolis
Info Iklan
Copyright © 2016. infoblora.com - All Rights Reserved