Blora on News :
Home » , , » Produksi Minyak Blok Cepu Meningkat, Namun Blora Tidak Dapat Dana Bagi Hasil

Produksi Minyak Blok Cepu Meningkat, Namun Blora Tidak Dapat Dana Bagi Hasil

infoblora.com on Apr 14, 2015 | 1:00 AM

Proyek migas Blok Cepu di sumur Banyuurip Kabupaten Bojonegoro Jatim akan memasuki masa puncak produksi di tahun 2015 ini. Namun hal itu tidak berpengaruh pada kondisi ekonomi Blora yang masih berada dalam kawasan Blok Cepu.
BLORA. Peningkatan produksi minyak Blok Cepu ternyata minim pengaruhnya bagi sektor ekonomi Kabupaten Blora. Sebab, Blora sama sekali tidak mendapatkan dana bagi hasil (DBH) dari ladang migas terbesar di Indonesia tersebut. Itu karena mulut sumur lapangan minyak yang berproduksi berada di wilayah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, meski kawasan pertambangan Blok Cepu sebagian di antaranya berada di Kabupaten Blora, Jawa tengah.

‘’Peningkatan produksi Blok Cepu pengaruhnya sangat minim bagi Blora meskipun pada tahun ini direncanakan produksi puncak Blok Cepu sebesar 165.000 barel per hari (BPH) akan dilakukan,’’ ujar Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Blora, H Setyo Edy, Senin (13/4).

Peningkatan produksi minyak Blok Cepu dilaunching di Surabaya, Minggu (12/4). Acara yang dihadiri Menteri ESDM Sudirman Said tersebut adalah lifting pertama dari Kapal Floating Storage and Offloading (FSO) Gagak Rimang.

FSO ini merupakan tempat penampungan minyak mentah yang diproduksi dari Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, yang terletak di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Kepala Dinas ESDM Blora H Setyo Edy juga hadir dalam acara tersebut.

Volume produksi minyak Blok Cepu saat ini mencapai 80.000 BPH. Jumlah tersebut meningkat dua kali lipat dari produksi pada akhir 2014 sebesar 40.000 BPH. Targetnya, Juli nanti naik menjadi 165.000 BPH.

Setyo Edy menuturkan, selama ini Blora hanya mendapat bagi hasil dari keikutsertaan BUMD dalam penyertaan modal participating interest (PI). Jumlahnya pun tidak seberapa banyak. Yakni di kisaran Rp 2 miliar pertahun.

Berbeda halnya dengan Bojonegoro. Selain mendapatkan bagi hasil PI, kabupaten yang bertetangga dengan Blora itu memperoleh pula DBH minyak Blok Cepu. Jumlahnya mencapai Rp 400 miliar-Rp 500 miliar pertahun. ‘’Bagi kami dana PI Blok Cepu untuk Blora ibaratnya CSR saja karena jumlahnya tidak banyak,’’ katanya.

Menurutnya, Pemkab Blora selama ini terus berupaya memperjuangkan perubahan regulasi tentang DBH migas. Regulasi tersebut menyebutkan daerah yang mendapatkan DBH adalah kabupaten penghasil migas (mulut sumur berada) serta kabupaten/kota lainnya yang masih berada dalam wilayah satu provinsi dengan daerah penghasil. ‘’Sampai kapanpun kami tetap memperjuangkan perubahan regulasi tersebut. Sebab regulasi itu sangat tidak adil,’’ tegas Setyo Edy.

Berdasarkan regulasi tersebut, kabupaten-kabupaten lain di Jawa Timur yang seprovinsi dengan Bojonegoro mendapatkan dana bagi hasil. Sedangkan Blora yang masih masuk wilayah kerja pertambangan Blok Cepu, hanya karena beda provinsi dengan Bojonegoro dimana letak sumur produksi berada, tidak dapat DBH sepeserpun. Ini yang terus diperjuangkan Pemkab Blora agar regulasi tersebut diubah. (Abdul Muiz-SMNetwork | Jo-infoblora)
Share this article :

0 komentar:

 
Powered by : Mas Kolis
Info Iklan
Copyright © 2016. infoblora.com - All Rights Reserved