Blora on News :
Home » , » Harga Eceran Tertinggi (HET) Gas Melon di Kab.Blora Diusulkan Rp 18 Ribu

Harga Eceran Tertinggi (HET) Gas Melon di Kab.Blora Diusulkan Rp 18 Ribu

infoblora.com on Apr 11, 2015 | 4:48 AM

Pemkab Blora diminta membahas kembali besaran harga eceran tertinggi (HET) elpiji melon ukuran 3 kg. Dinas ESDM usulkan HET sebesar Rp 18.000 per tabung. (rs-infoblora)
BLORA. Pemkab Blora harus mengubah lagi usulan harga eceran tertinggi (HET) gas melon ukuran 3 kilogram. Itu dilakukan karena adanya perubahan HET yang ditetapkan gubernur Jateng. Pemkab Blora bersama sejumlah pihak terkait pernah melakukan pembahasan usulan HET gas elpiji melon sebesar Rp 16.000/tabung di awal tahun 2015.

Bahkan jika usulan HET itu benar-benar ditetapkan, HET di Blora merupakan paling rendah dibanding HET di kabupaten lain di sekitar Blora yang rata-rata ditetapkan Rp 16.500 hingga Rp 17.500. Usulan HETgas elpiji 3 kilogram Rp 16.000/tabung tersebut antara lain mengacu pada ketetapan gubenur Jateng yang menyebutkan HET elpiji 3 kilogram di tingkat pangkalan Rp 14.000.

Namun sebelum bupati menandatangani penetapan HET, ternyata muncul ketetapan HET terbaru dari gubernur. Sesuai Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 541/15 Tahun 2015 tentang Penetapan HET elpiji tabung 3 kilogram pada titik pangkalan di Provinsi Jawa Tengah, untuk harga tebus sebesar Rp. 15.500 per tabung.

’’Dengan munculnya SK gubernur yang baru tersebut, kami harus melakukan penyesuaian. Sehingga muncul usulan HET gas elpiji 3 kilogram sebesar Rp 18.000/tabung di tingkat konsumen,’’ ujar Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah (Setda) Blora Rudatiningsih, kemarin. Menurutnya, usulan HET yang baru tersebut masih akan diproses lebih lanjut sebelum akhirnya akan menjadi ketetapan.

Dia menyebutkan pemerintah daerah kabupaten atau kota diberi kewenangan menetapkan HET di tingkat konsumen. ’’Keputusan Bupati Blora tentang penetapan HET elpiji tabung 3 kilogram di tingkat konsumen masih dalam proses di bagian hukum,’’kata Rudatiningsih. 

Seperti diketahui, distribusi gas elpiji dari Pertamina melalui beberapa tingkatan. Diawali di tingkat agen, selanjutnya didistribusikan ke pangkalan untuk kemudian dijual ke konsumen. Di tingkat pangkalan inilah selama ini lazim dijumpai penjualan gas elpiji melalui pengecer bahkan ditambah munculnya sub pengecer. Bertambahkan rentang distribusi tersebut kerap menjadikan harga elpiji melambung tinggi. 

’’Pemkab tidak mempunyai kewenangan memberi sanksi kepada para pihak yang mendistribusikan gas elpiji jika melakukan pelanggaran. Kewenangannya ada pada Pertamina,’’tandas Rudatiningsih.

Sementara itu, Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Blora merekomendasikan HET elpiji 3 kilogram di tingkat konsumen sebesar Rp 18.000/tabung. Rekomendasi itu dituangkan dalam surat bernomor 540/063/2015 tanggal 25 Maret 2015 perihal HET elpiji 3 kilogram yang ditujukan kepada bupati.

’’Surat rekomendasi teknis itu melalui kajian. Diantaranya mengacu harga terkini elpiji yang ditetapkan pemerintah termasuk kondisi sosial ekonomi di masyarakat Blora,’’ujar Kepala ESDM Setyo Edy.

Menurutnya, harga elpiji yang kerap berubah-ubah menjadikan pemerintah daerah harus menyikapinya dengan baik. Salah satunya dengan menetapkan HET di tingkat daerah yang disesuaikan dengan kondisi terkini . ’’Kalau ada perubahan harga, tentu daerah akan menyesuaikannya,’’tandas Setyo Edy. (Abdul Muiz-SMNetwork | Jo-infoblora)
Share this article :

0 komentar:

 
Powered by : Mas Kolis
Info Iklan
Copyright © 2016. infoblora.com - All Rights Reserved