Blora on News :
Home » , » Pertama Kali di Blora, Penyakit Leptospirosis Memakan Satu Korban Jiwa

Pertama Kali di Blora, Penyakit Leptospirosis Memakan Satu Korban Jiwa

infoblora.com on Mar 23, 2015 | 12:00 AM

Penyakit leptospirosis kali ini sampai menelan korban di jiwa di Kabupaten Blora. (foto-ilustrasi)
BLORA. Sarini (52) warga desa di Kecamatan Tunjungan Blora meninggal setelah mengidap penyakit leptospirosis. Dia meninggal saat menjalani perawatan di salah satu rumah sakit di Semarang pada 28 Februari 2015. Pemberitahuan terkait penyakit yang diidap korban disampaikan pihak rumah sakit ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Blora belum lama ini.

’’Memang benar ada salah seorang warga Blora yang meninggal karena penyakit leptospirosis,’’kata Kepala Dinas Kesehatan, Henny Indriyanti melalui Kepala Bidang Pencegahan Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman (P2PLP) Dinas Kesehatan, Lilik Hernanto, Sabtu (21/3) kemarin.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa itu merupakan kejadian kali pertama di Blora. Awalnya diduga Sarini mengidap penyakit ginjal. Namun setelah didiagnosis lebih lanjut ternyata leptospirosis. Oleh karena itu, menurutnya, masyarakat perlu memahami seluk beluk penyakit itu. ’’Dengan begitu, masyarakat bisa melakukan antisipasi sejak dini. Terpenting lagi adalah segera membawa penderita ke dokter untuk mendapatkan penanganan medis,’’tandasnya.

Selain merugikan petani, kata dia, hama tikus yang menyerang tanaman padi juga membahayakan bagi kesehatan manusia. Kencing tikus yang mengandung bakteri leptospira bisa menularkan penyakit leptospirosis. Meski penularannya tidak hanya melalui kecing tikus tapi juga hewan lainnya. ’’Jika penderita penyakit leptospirosis tidak segera ditangani dengan baik, maka bisa menyebabkan kematian. Persentasenya kemungkinan kematian adalah 50 persen,’’ katanya.

Penularan penyakit ini, kata dia, bisa melalui tikus, babi, sapi, kambing, kuda, anjing, serangga, burung, landak, kelelawar dan tupai. Di Indonesia, penularan paling sering melalui tikus. Air kencing tikus terbawa banjir kemudian masuk ke dalam tubuh manusia melalui permukaan kulit yang terluka, selaput lendir mata dan hidung.  Bisa juga melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi setitik urin tikus yang terinfeksi leptospira, kemudian dimakan dan diminum manusia.

’’Penyakit ini paling sering ditularkan dari hewan ke manusia ketika orang dengan luka terbuka di kulit melakukan kontak dengan air atau tanah yang telah terkontaminasi air kencing hewan. Bakteri juga dapat memasuki tubuh melalui mata atau selaput lender,’’ ujarnya.

Dia menjelaskan, gejala leptospirosis yang paling umum dirasakan penderita adalah demam, sakit kepala dan nyeri di beberapa bagian tubuh seperti punggung, betis dan paha. ’’Bila betisnya dipijit, rasa nyeri akan semakin terasa,’’ungkapnya.

Tanda-tanda dan gejala leptospirosis biasanya muncul tiba-tiba, sekitar 7 sampai 14 hari setelah seseorang terinfeksi, dan dalam beberapa kasus, tanda dan gejala tersebut mungkin muncul sebelum atau sesudahnya. Tanda dan gejala ringan di antaranya, menggigil, batuk, diare, mual, hilang nafsu makan, mata memerah dan iritasi.

Pasien biasanya membaik dalam waktu satu minggu tanpa pengobatan. Namun sebagian kecil dari mereka tidak membaik, dan akan menderita leptospirosis berat. Tanda dan gejala leptospirosis berat muncul beberapa hari setelah gejala leptospirosis ringan telah menghilang. ’’Jika ginjal yang kena, pasien yang tidak diobati bisa mengalami gagal ginjal yang mengancam jiwa,’’ujarnya. (Abdul Muiz-SMNetwork | Jo-infoblora)
Share this article :

0 komentar:

 
Powered by : Mas Kolis
Info Iklan
Copyright © 2016. infoblora.com - All Rights Reserved